290418
Hari pertama dengan hati yang kupatahkan sendiri.
Dapat dipastikan aku terbangun dgn mata yg bengkak, betapa tidak? aku menangis hampir sepanjang malam dan bersyukur dpt terlelap 2 jam kurasa itupun krn mata ini sudah lelah. Dan hari ini harus kulalui nyaris 5 jam bersama mata yg bengkak, dan hati yg baru saja kupatahkan sendiri. Kamu pasti tahu teramat lama dan teramat sulit saat aku memutuskan untuk mengirim "pesan" itu. Tak ada yg pernah berubah dgn rasa yg kusebut cinta. Tak pernah berkurang sedikitpun untukmu meski aku memilih untuk menyudahinya. Aku sering berkata bahwa sejak pertama aku mengenalmu, kuputuskan bahwa sejak saat itu bahagiaku adalah membuatmu bahagia, menggoreskan senyum diwajahmu. Jd bagaimana tdk aku dpt terbangun dgn mata yg bengkak, sedangkan aku telah merenggut paksa kebahagiaanmu yg juga menjadi bahagiaku. Saat mengirim pesan itu sekali lagi aku jelaskan bhwa butuh pertimbangan dan waktu berhari2 lamanya untuk mengungkapkannya, aku mencari moment yg tepat agar tdk menganggu waktu kerjamu, tdk mengganggu waktu istirahatmu, meskipun pada akhirnya amat menganggu pikiranmu. Ehmm kenyataan lain yg membuatku sakit, kamu hanya membutuhkan waktu 3 jam untuk mengiyakan perkataan yg bersarang dipikiran ku berhari2 lamanya. Bodohnya aku, aku mengira bhwa kau akan memintaku untuk bertemu sejenak.. dan mungkin saat itu aku akan luluh. Namun aku lupa, bhwa disini bukan hanya hatiku yg patah tapi hatimu juga. Mungkin sejak saat itu pula kau mulai memilih untuk membenciku. Membenci wanita bodoh yg tak menghargai banyak waktu yg kau habiskan dgnnya, membenci wanita bodoh yg tak menghargai ratusan kilometer yg kau tempuh untuknya, membenci wanita bodoh tak menghargai semua usahamu. Sangat wajar jika kau memutuskan untuk membenciku. Tapi yg haruss kau tahu, tak pernah sedikitpun berpikir atau tersirat tak menghargai semua waktu, jarak, dan usaha yg kau tuju untukku. Sama sekali tdk, aku bersyukur teramat bersyukur krn Tuhan tlh membuatku merasakan betapa indahny arti dari "diperjuangkan". Aku mencintaimu, teramat mencintaimu. Maaf aku memilih keputusan ini. Krn disisi lain, yg membuatku untuk ttp teguh adlh aku semakin menyadari bhwa "Allah melarang umatnya untuk pacaran" terdengar klise dan semua orang pun tau akan hal itu. Namun begitu banyak kajian mengenai hal itu, semakin sering aku mendengarnya, semakin sering pula rasa yg berkecamuk didada ini muncul. Sangat besar rasa ingin tetap memilikimu, namun aku yg merasa menjadi hamba yg banyak berdosa ini semakin merasa bodoh dan berdosa jika memaksa untuk tetap memilikimu bukan dlm ikatan yg halal. Entah jika kau tahu alasanku yg satu ini kau akan berpikir aku hanya mengada2 atau tdk. Tapi memang itu yg membuatku agar ttp yakin trhdp keputusanku, dan mungkin ini pula jalan Allah mengenai "kau yg tidak menemuiku" krn Allah yakin saat kau menemuiku hatiku akan goyah aku akan mengubah keputusanku, iyaa Allah tahu aku masih teramat lemah maka dari itu Allah tidak menggerakkan hatimu untuk menemuiku. Ah, Entah harus berapa purnama yg harus kulewati hingga akhirnya saat mengenangmu tak ada lg air mata yg berkumpul dipelupuk mataku atau mungkin lebih sering terjatuh dan melewati pipiku. Yang hanya bisa aku lakukan adlh aku harus yakin bahwa jikalau memang kita berjodoh sejauh apapun jarak atau selama apapun waktu yg terlewati tanpa kata "kita" jika memang berjodoh Allah akan mendekatkan hatimu untuk kembali padaku. Dan entah kemana takdir akan menuntun hatimu berpulang, entah ketempat yg sama (hatiku) atau kau menemukan hati lain untuk berlabuh selamanya.. aku akan mengenangmu sebagai cinta yg sesungguhnya cinta dan saat aku mengenang itu namun hatimu sudah berlabuh ditempat lain, pada waktunya aku akan mengenangmu tanpa ada rasa sesak yg begitu mencekik, dan tanpa ada rasa sesal yg bergemuruh.
Komentar
Posting Komentar